Dinas Pertanian Laksanakan Gerakan Bersama Pengendalian Hama Tikus Se Sumsel

BANYUASIN, SUMSELJARRAKPOS.com – Guna  mencegah terjadi serangan  hama tikus pada tanaman padi, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hotikultura (DPTPH) Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar gerakan bersama pengendalian hama tikus Se-Sumsel yang dipusatkan di Desa Gelebak Dalam Kecamatan Rambutan Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumsel, dan dan diikuti secara virtual 16 kabupaten/kota di Sumsel, pada Kamis (03/06/21).

Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI)  melalui Direktur Jenderal (Dirjen) Perlindungan Tanaman Pangan, Mohammad Takdir Mulyadi yang turut hadir dalam acara tersebut, mengungkapkan guna mengatasi hama tikus, pihaknya akan menggagas formula baru yang ramah lingkungan dengan menggunakan menggunakan agen hayati maupun pestisida nabati sehingga ke depannya petani tidak perlu lagi menggunakan pestisida atau bahan kimia yang identik responsif. 

Bacaan Lainnya

“Ke depannya kita akan arahkan ke langkah preventif maupun responsif. Ini merupakan pendekatan yang ramah lingkungan untuk pengendalian OPT (Organisme Penggangu Tanaman),”ujar Takdir. 

Masih dikatakannya, ramah lingkungan pengertiannya adalah upaya kita menggunakan agen hayati, maupun pestisida nabati pada masa-masa prime etif 27 HST, dilakukan gerakan-gerakan massal juga agar supaya potensi-potensi serangan endemis yang diperkirakan akan terjadi maka tidak akan terjadi, “jadi kita tidak perlu lagi kalau sudah aman dimasa prime etif tidak perlu lagi menggunakan pestisida yang identik responsif, itu yang diupayakan,”kata Takdir. 

“Langkah ini kita lakukan untuk mengamankan target produksi pangan di Indonesia. Target nasional kita kan 56 juta, nah ini harus kita amankan dari hama-hama yang mengganggu pencapaian target kita,” tutup Takdir.

Kepala DPTPH Sumsel, R. Bambang Pramono di dampingi jajaran mengatakan bulan Juni dan Juli merupakan fase tertinggi serangan hama tikus. Untuk itu, melalui gerakan bersama pengendalian hama tikus ini pihaknya berharap dapat menekan kekurangan hasil.

 “Fase kritis saat tumbuh kembang tanaman terjadi pada saaat usia di bawah  bawah 70 hari. Karena pada fase tersebut, tanaman sangat rentan dengan penyakit, perubahan iklim, dan hama, Setelah fase 70 hari ke atas mulai mengeluarkan malai mulai mengisi, fase itu juga ada serangan hama dan penyakit itu juga akan kita kendalikan,”ungkap Bambang. 

Hal inilah kenapa hari ini gerakan massal pengendalian hama tikus kita lakukan,  “hasilnya, dari hasil gerakan bersama hari ini, ribuan tikus berhasil ditangkap para petugas di lapangan,” pungkas Bambang.

Menurut Kepada DPTPH Banyuasin, Zainuddin , alhamdulillah kita hari ini mendapatkan sebuah kehormatan, tentunya ini adalah rahmat dari sang pencipta untuk masyarakat Banyuasin pada khususnya.

“Hari ini dilakukan gerakan pengendalian hama utamanya adalah hama tikus, kenapa itu yang dipilih, oleh karena hama tikus itu memang akan berkembang biak pada bulan-bulan Mei, Juni, dan Juli, sehingga sangat perlu untuk kita lakukan pemasyarakatan kepada petani,”ungkap Zainuddin. 

Masih dikatakan Zainuddin, bahwa pengendalian hama ini dila untuk minimal mengurangi kegagalan panen, mengurangi gagal produksi itu minimal, bahkan kita secara maksimal kita harapkan untuk bisa meningkatkan produksi, dengan kita tidak ada serangan tikus yang memberatkan bagi petani, mudah-mudahan produksi tidak terganggu, dan lebih dari hama tikus yang digadangkan pada hari ini. “Kita lebih kepada memasyarakatkan pengendalian hama terpadu yang ramah lingkungan”tandasnya.  

Sementara itu, Kepala Desa Gelebak Dalam, Hasan Sani, saat diwawancari terkait alat mesin pertanian (Alsintan) mengungkapkan sementara ini alat yang disupport oleh Dinas Pertanian kabupaten, baik itu kabupaten Banyuasin dan Provinsi yakni handtraktor, alat tanam, pompa air.

“Jadi itu, cara pemakaiannya ada di Pengurus Pokja, jadi itu bukan berupa bantuan, tetapi berupa pinjam pakai, jadi kelompok tani mengajukan surat kedinas pertanian kabupaten, nanti dari kabupaten akan meneruskan ke provinsi. Itu berlaku untuk perenam bulan, surat itu satu kali pengusulan itu untuk enam bulan,”beber Kades. (DN)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *